manfaat berkebun bagi kesehatan mental

interaksi mikrobioma tanah dan otak

manfaat berkebun bagi kesehatan mental
I

Pernahkah kita merasa begitu lelah dengan rutinitas, sampai rasanya ingin kabur saja ke antah berantah? Kita sering kali mencoba segala cara untuk meredakan stres yang menumpuk di kepala. Kita ikut kelas yoga, mencoba meditasi mingguan, scrolling media sosial sampai pagi mencari hiburan, hingga minum kopi bergelas-gelas. Semuanya demi mencari secercah ketenangan. Tapi, bagaimana jika salah satu obat penenang paling ampuh di dunia sebenarnya ada tepat di bawah telapak kaki kita? Literally, di bawah sepatu yang kita pakai setiap hari. Hari ini, saya ingin mengajak teman-teman melihat sesuatu yang sering kita sebut sebagai "kotoran" dengan cara yang sama sekali berbeda.

II

Mari kita mundur sebentar ke belakang. Secara historis, nenek moyang kita menghabiskan ratusan ribu tahun dengan tangan yang berlumuran tanah. Mereka berburu, meramu, dan pada akhirnya bercocok tanam. Alam dan manusia saat itu adalah sebuah kesatuan yang tidak terpisahkan. Namun sekarang, kita hidup di era modern yang sangat steril. Kita punya hand sanitizer di setiap sudut ruangan dan meja kerja. Kita bahkan sering panik kalau ada sedikit tanah menempel di baju atau celana kita. Secara psikologis, kita sadar bahwa jalan-jalan di taman atau melihat tanaman hijau bisa bikin pikiran lebih santai. Kita sering mengira itu murni karena udara segar atau efek visual warna dedaunan. Memang benar, itu semua sangat berpengaruh. Tapi, para ilmuwan mulai curiga ada aktor lain yang bekerja dalam diam. Sesuatu yang ukurannya sangat mikroskopis, tapi punya kontrol luar biasa terhadap stabilitas emosi kita.

III

Kisah ini menjadi sangat menarik ketika kita melihat sebuah eksperimen medis yang—lucunya—tidak ada hubungannya dengan urusan berkebun. Beberapa dekade lalu, seorang onkolog bernama Mary O'Brien sedang meneliti metode pengobatan untuk pasien kanker paru-paru. Ia menyuntikkan sejenis bakteri yang biasa ditemukan di dalam tanah kepada pasien-pasiennya. Tujuannya murni fisiologis, yaitu berharap bakteri tersebut bisa memicu dan memperkuat sistem imun mereka yang sedang melemah. Hasilnya? Penyakit mereka mungkin tidak sembuh dalam semalam. Tapi ada satu efek samping ajaib yang membuat para dokter di ruangan itu kebingungan. Pasien-pasien ini tiba-tiba melaporkan lonjakan kebahagiaan yang signifikan. Mereka merasa jauh lebih hidup, lebih tenang, dan rasa sakit kognitif mereka menurun drastis. Pertanyaannya, bagaimana mungkin bakteri dari lumpur dan tanah liat bisa mengubah mood manusia yang sedang sakit parah? Rahasia magis apa yang sebenarnya disembunyikan oleh tanah?

IV

Selamat datang di dunia mikrobioma tanah. Bakteri ajaib yang membuat pasien tadi tiba-tiba merasa bahagia bernama Mycobacterium vaccae. Mari kita bedah sedikit hard science-nya. Ketika kita berkebun, mencabut rumput liar, atau sekadar membolak-balik tanah pakai sekop kecil, kita sebenarnya sedang menghirup dan menyerap partikel M. vaccae melalui kulit dan saluran pernapasan kita. Begitu masuk ke dalam aliran tubuh, bakteri ini tidak diam saja. Ia bertindak seperti kurir VIP yang membawa pesan mendesak. Ia langsung mengirimkan sinyal ke otak kita. Target utamanya? Sekelompok sel saraf yang bertugas memproduksi serotonin. Ya, ini adalah hormon kebahagiaan yang sama, yang sering menjadi target utama dari obat-obatan antidepresan modern. Dengan kata lain, tanah memiliki sistem mikrobioma yang secara harfiah bisa "mengobrol" dengan otak kita. Ketika kita mengotori tangan dengan tanah, kita tidak cuma sedang menanam bibit bunga. Kita sedang melakukan terapi kimiawi alami yang sudah dirancang oleh evolusi selama jutaan tahun.

V

Melihat fakta ini, rasanya semuanya menjadi masuk akal, bukan? Tubuh dan otak kita berevolusi bersama alam. Jadi, sangat wajar jika kita sering merasa hampa, cemas, atau terisolasi ketika kita mengurung diri di dalam kotak beton bersuhu dingin yang serba steril. Tentu saja, saya tidak bilang teman-teman harus resign dari pekerjaan dan beralih profesi menjadi petani hari ini juga. Kita tidak perlu se-ekstrem itu. Mulailah dari hal-hal kecil yang mudah dijangkau. Beli satu pot tanaman hias untuk ditaruh di meja. Biarkan ujung jari kita sedikit kotor saat mengganti pupuk atau menyiram tanahnya. Hirup dalam-dalam aroma khas tanah basah setelah terkena air, aroma menenangkan yang sering kita sebut petrichor. Di tengah dunia modern yang terus-menerus menuntut kita untuk selalu tampil bersih, rapi, dan sempurna tanpa cela, mungkin hal yang paling kita butuhkan untuk menjaga kewarasan hanyalah sebuah izin. Izin untuk kembali bermain tanah. Mari kita rawat kebun atau tanaman kecil kita, dan biarkan mereka merawat isi kepala kita sebagai balasannya.